• Sometimes, you just need listen and feel...

  • Like me :)

  • Greetings me :)

Latest Posts

Rabu, 28 Januari 2015

#latepost


Aku dan kamu telah menjadi KITA. Berawal manis, penuh kasih, perhatian, juga sayang. Semua berjalan seperti seharusnya. Selalu ada manja, candaan konyolmu, dan aku bahagia. KITA bahagia. 
Entah kapan saat itu datang, aku pun tak menyadarinya. Menyadari saat cinta berubah seperti asap dan menghilang. Entah kapan pula, kau tak lagi menjadikan ku satu satunya. Aku tak pernah bisa menjawab itu. 
Kala itu, semua berubah. Tak pernah lagi sama. Tanpa tatap mata. Tanpa bicara. Tanpa kabar menerpa. Hanya kosong. Datar. Tak ada goresan kata. Kita bisu akan rindu. Dan aku sadar itu. 
Jarak berhasil membusungkan dadanya angkuh karena telah mampu merubah cinta menjadi tak layak dirasa. Kita kini memang tanpa kejelasan. Aku tak pernah tau, disana kau mampu menjaga, atau memang kau telah menghapus cinta. Aku tak pernah tau. 
Dan aku lelah. Aku letih bertahan untuk menunggu kepastian yang ku rasa tak kunjung menghampiri. Aku merasa percuma untuk tetap mempertahankan. Tak akan sama. Aku berhenti untuk tetap memperjuangkanmu. 
Sampai akhirnya, tanpa kata kata perpisahan, tanpa ucapan selamat tinggal, kita telah berbeda. Kau dengan wanitamu, dan aku dengan pilihan ku. 
Entah disebut apakah ini. Aku pun tak pernah paham. Dan kini aku hanya mengikuti alur. Biarkan air mengalir menjauhi hilir. Dan biarkanlah kita pergi menjauhi cinta.

                                                                                                 Jogjakarta, 20 agustus 2014 
 

                                                                                                                         Airin Aditya

Rinduku yang terjawab.


Mungkin langit yang kita pandang kala ini sangat berbeda
Suhu yang kita rasakan mungkin sangat kontras adanya
Saatku mulai bergegas memulai hariku, mungkin kau sedang dalam persiapan menuju mimpi indahmu
Saat ku menatap bulan yang bersinar terang, mungkin kau sedang berteduh dari teriknya sinar matahari yang membakar kulit.
Saatku membutuhkan alat untuk membuat udara disekitarku terasa sejuk, mungkin kau sedang menggunakan selimut tebal untuk mencari kehangatan.
Saatku sedang berlindung dari derasnya hujan, mungkin kau sedang mencari oase ditengah gersangnya padang gurun.
Namun satu hal yang membuat keadaan dan kondisi kita serasi nan padu, di manapun, kapanpun, dalam kondisi apapun…
rindu..
Rinduku padamu, dan rindumu padaku…
Doaku…
Semoga Tuhan mau berbelaskasih pada kita berdua,
dan segera memerintahkan sang semesta untuk menciptakan waktu dan suasana yang tak akan kita duga dan pahami maksudnya.
Ya… Untuk mempertemukan kita dan mengenali satu sama lain,
bahwa kamu dan aku adalah rindu yang terjawab.

Minggu, 20 Juli 2014

Aku rindu.



Aku sedang merindu, kepada seseorang yang telah memenuhi hatiku beberapa minggu ini. Aku sedang merindu, kepada seseorang yang selalu mewarnai hariku dengan senyuman. 

Bukan perkara mudah merebut hatinya dari banyak hati yang meminta. Bukan perkara mudah juga untuk menjaga hati ini untuknya. 

Ini tentang rindu yang terus menumpuk kepadaku. Ini tentang rindu yang ingin segera disampaikan padanya. Ini rindu yang butuh jawaban tentangnya, peluknya adalah penawar rinduku. 

Ini perkara rindu yang terhalang ribuan jarak untuk dipertemukan sesegera mungkin. Ini perkara rindu yang hanya bisa dipupuk dan dipertemukan setidaknya sebulan sekali. Perkara rinduku menyulitkan, tapi aku tak pernah merasa sulit jika berakhir bahagia. 

Jika kamu kebahagianku, mungkinkah aku berpaling hanya karna perkara rindu ini? :* 

Teruntuk masa lalu.


Teruntuk masa lalu, lepaskanlah aku dari belenggu. Tidakkah kau lihat, jika dia telah mampu bahagia tanpa aku. 
Pergilah rindu yang kini tak bertuan,tak ada lagi tempatmu dihatinya begitu juga dihatiku. Jangan datang lagi kepadaku, menyerang hati dan pikiran setiap waktu. Padahal kau tahu, sejak kepergian tuanmu, kuharap kau mengikuti jejaknya dan tak lagi menggangguku. 
Kenangan. Entah apa yang harus kukatakan kepadamu. Memintamu lenyap dari ingatan, itu tidak mungkin. Suka atau tidak, aku harus menerima kehadiranmu. Menyenangkan atau tidak, kau akan tetap mengikutiku. 
Masa lalu. Cukup sampai disini kau hadir. Biarkan aku menggapai masa depan, tanpa kau bebani dengan penyesalan atas apa yang telah aku lakukan.

Senin, 30 Juni 2014

Ibu, Aku Masih Merindukanmu


Ibu pasti sedang menertawaiku sekarang, ibu akan bilang, “Tuh kan, kangen juga sama ibu. Waktu ibu masih ada dicuekin, keasyikan jalan sama temen-temennya, lebih milih curcol ke twitter daripada ngobrol seru sama ibu tentang hidup kamu, lebih milih makan di luar daripada makan masakan ibu yang gak ada duanya rasanya, ibu salah ngomong dikit merajuknya pake lama, sekarang malah nyariin.” 


"Tapi kan, bu, kita gak pernah saling meninggalkan tanpa pamit? Ibu seperti pergi lewat pintu belakang. Ibu meninggalkanku disuatu malam tanpa kecupan yang sempat aku rasakan, dan terbangun dengan kehampaan yang tiba-tiba. 
Tapi aku juga berusaha menerima dan merangkai cerita bahwa mungkin ibu memang lebih baik meninggalkanku tanpa pelukan terakhir karena jika kita sempat melakukannya, malaikat Maut akan kesusahan berusaha melepaskan pelukan kita".

Tenanglah ibu, kepergianmu perlahan bisa kuterima. Hanya saja rindu ini tak henti membelah diri hingga aku terus menulis kisah ini. Ayolah ibu, temui aku di mimpi, biar kita berpelukan sampai pagi menjemputku lagi. Karena pelukanmu terhangat, ternyaman, dan selalu paling aman di dunia.

Jumat, 27 Juni 2014

Selamat Ulang Tahun, sayang


Selamat siang menuju senja, sayang...

Apa kabarmu hari ini? Bagaimana perasaanmu hari ini? Adakah yang mengusik pikiranmu? apakah lesung pipit diwajahmu masih terus memancar?
Hari ini, selamat ulang tahun yah :). Aku mungkin tak bisa mengabulkan permintaanmu, atau memenuhi harapan-harapanmu. Aku pun tak bisa memberikan hadiah manis berupa bungkusan kado warna warni. Dari dalam hati yang paling tulus, hanya doa pengharapan yang sejatinya bisa aku kirimkan. Semoga apa yang kau peroleh kemarin, hari ini dan esok adalah hal yang bisa membuatmu terus tersenyum.

Umurmu? 21 Tahun, bukan? Dan selama hampir empat tahun dalam umurmu itu kita bersama mengejar mimpi. Aku mungkin bukanlah sahabat yang banyak mengenal tentangmu. Aku juga adalah sahabat yang kadangkala membuatmu kecewa dan marah. Aku sering menyusahkan bahkan mencaci maki. Aku bukan sahabat yang baik, bukan?

Tapi kau tahu? kau adalah sahabat terbaik yang kukenal. Aku bangga dengan kesabaranmu. Aku iri dengan keceriaanmu. Dan aku terpesona dengan kepolosanmu.

Ketika kita sadar tentang pertemuan selama ini, harusnya juga kita sadar bahwa perpisahan juga akan datang. Mungkin inilah yang akan kita temukan di tahun ini. Tuhan telah memberikan kita waktu yang luar biasa untuk bertemu, melewati onak dan duri yang menghalangi mimpi mimpi kita. Ah, bagaimna rasanya ketika perpisahan itu datang? Pastinya ada air mata. Dan kuharap air mata itu adalah air mata kebahagiaan.

Aku ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Terima kasih atas canda tawa. Terima kasih atas pengertianmu. Dan terima kasih atas segalanya.

Ketika kita tak lagi bersua dan tak punya cukup kuasa untuk berjumpa, kuharap kau tidak akan lupa bahwa kita pernah dipertemukan dalam satu perahu. Bersama merasakan susah dan senangnya menjelajahi dunia ini.
Dimasa depan, aku tetap akan berharap bersua denganmu dengan masing-masing impian yang telah dalam genggaman. Aku berharap, Tuhan punya rencana itu. Ketika waktu itu datang, ku harap engkau akan mengatakan “Sahabatku, Aku merindukanmu”. Sederhana. Dan hanya itu yang ingin ku dengar..
Sekali lagi, selamat ulang tahun….. Wish you all the best, sayang. 

Kamis, 26 Juni 2014

Rindu Senja


Aku senang menitipkan rindu untukmu pada matahari senja.
Dan kamu senang menitipkan rindu pada sang purnama. 
Mungkin kita terpisah jarak yang sangat jauh, layaknya matahari dan bulan. 
Atau mungkin kita berada di tempat yang sangat berdekatan. 
Aku tidak tahu, karena aku belum menemukanmu. 
Hanya satu hal yang aku tahu, kita pasti ditakdirkan untuk bertemu.

Aku ingin seperti matahari. 
Selalu mencintai bulan dengan cahayanya, meski mereka tidak pernah bersama dalam satu waktu. 
Jika kita bertemu nanti, aku ingin kamu seperti bulan. 
Bulan menggantikan matahari di kala malam. 
Matahari dan bulan saling melengkapi, dan aku ingin nanti kita begitu.
Aku titipkan rindu untukmu pada matahari senja, dan akan kutunggu salam rindu darimu.

Selasa, 24 Juni 2014

Do You?


Ada senyum dalam hati, ketika mereka menanyakan tentang kita kepadaku. 
Entah jawaban apa yang harus kuberikan, karena aku masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai kita. Sementara mereka, dengan bahagia menyangka kita telah saling mengikrarkan cinta dan sepakat hidup bersama. 

Aku dan mereka telah memiliki hal yang sama dalam hal ini, namun entah bagaimana denganmu. Tanpa kau tahu, cinta telah datang menghampiriku terlebih dahulu. Namun aku tak ingin menyatakan perasaan ini padamu, aku masih memegang prinsip bahwa wanita hanyalah menunggu.

Kusampaikan perasaanku melalui doa -doa, biar Tuhan yang menunjukkannya kepadamu, tentang rasa yang kupunya. 

Jika nanti akhirnya rasa itu tidak kunjung datang dihatimu, aku hanya berharap Tuhan tak akan memberikan rasa yang terlalu, sehingga tak sulit bagiku untuk berlalu darimu. 

Kopi


Lihat, pahitnya kopi pun tetap mempunyai caranya sendiri untuk mengambil hati para pengelana pagi. 
Ya, sama seperti caramu menyakiti yang membuatku menjadi jatuh hati.

Senin, 23 Juni 2014

Maukah Kamu?





Aku memang tidak sempurna, 
tidak sesempurna seperti para gadis yang mengejarmu.

Aku tak memiliki paras secantik bidadari, 
hanya seorang gadis biasa yang terperangkap pesonamu.

Aku tak bisa membanggakan parasku, 
aku hanya bisa membanggakan setiap aksara yang kumainkan dalam imajinasiku.

Meskipun aku tak pandai merayumu setidaknya aku pandai menceritakanmu lewat aksara.

 jadi Tuan, maukah kau benar-benar menjadi nyata dalam hidupku 
bukan hanya hidup dalam aksaraku?


Menjadi pendampingku melengkapi setiap kisahku...

Sabtu, 21 Juni 2014

Janji





Kemarin kau datang ke rumah, menunggu di depan teras rumahku seperti biasa. Saat melihatku pun senyummu masih sama, senyum menggoda yang selalu kau tunjukkan saat kita masih bersama. Sekelebat kenangan pun datang menggoda saat melihatmu kembali. 

Sekarang di sinilah kita, duduk berseberangan dengan kenangan yang sekelebat datang menggoda diri masing-masing.

Kau masih tersenyum sembari bertanya kabar kepadaku. Senyummu terasa berbeda, bukan senyum tulus yang selalu ku temui saat kita bersama seperti dulu. Kau bertanya siapa kekasihku sekarang, ku jawab hanya dengan tawa. Kemudian kau serahkan kepadaku kertas berwarna putih dan ungu itu, undangan pernikahanmu. Undangan pernikahan mantan kekasihku.

Aku terhenyak sembari bertanya, benarkah ini undanganmu?. Kamu tersenyum dan membalasnya dengan anggukan. Aku hanya sanggup tertawa dan memberikan selamat kepadamu. Akhirnya kau temukan juga tambatan hatimu setelah sekian lama bergonta-ganti pelabuhan hati.

"Aku minta maaf", katamu tiba-tiba kepadaku.

"Maaf?, untuk apa?", balasku kepadamu.

"Aku pernah berjanji kepadamu untuk membawamu ke depan altar denganku di 25. Aku belum genap 25 pun kamu, tapi aku telah mewujudkannya dengan gadis lain. Gadis yang telah merebut hatiku dan janjiku padamu".

"Ternyata kau masih ingat dengan janjimu?, hahaha…. Sudahlah, aku bisa apa jika ini rencana Tuhan?. Mungkin aku tidak baik untukmu di masa depan, pun kau untukku. Maka dari itu Tuhan memisahkan kita agar kita menemukan masa depan kita masing-masing yang lebih baik tentunya. Aku tidak marah pun kecewa padamu, toh kita sudah lama berpisah untuk apa mengungkit kembali rasa yang telah lama padam. Aku berdoa dan berharap semoga dia, gadis yang kau bawa ke depan altar nanti adalah benar-benar tulang rusukmu yang hilang. Semoga ia semakin melengkapimu dan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak. Aku tak bisa memberimu hadiah pernikahan mahal, aku hanya bisa memberi doa untuk kalian berdua." balasku sambil tersenyum padamu.

"Kau sudah berubah menjadi dewasa rupanya, semoga kau segera menemukan tambatan hatimu"

"Dewasa bukan hanya di ukur dari usia, kau saja yang selalu menganggapku anak kecil"

"Hahaha, baiklah. Apa aku boleh pamit sekarang?, daripada aku semakin sesak dengan kenangan kita"

"Silahkan, sampaikan salamku kepada gadismu. Aku pasti datang ke pernikahanmu, tunggu saja!"

Kau hanya tertawa dan segera kembali ke mobilmu. Aku menatap punggungmu dengan senyum kelegaan. Kau yang dulu selalu ku puja sekarang telah menapaki jenjang kehidupan yang lebih daripadaku. Ku doakan semoga pernikahan kalian berdua kelak akan bahagia selalu dan di limpahi berkah dari-Nya. Selamat menempuh hidup baru mantan kekasihku dan jangan lupa berikan aku keponakan yang lucu-lucu ya! :D