• Sometimes, you just need listen and feel...

  • Like me :)

  • Greetings me :)

Latest Posts

Rabu, 01 April 2015

HITAM PUTIH

Salah satu permasalahan budaya di masyarakat kita yang seperti tak berujung  adalah pertentangan antara etnis Tionghoa  dan Jawa/pribumi. Banyak sekali konflik yang terjadi diantara kedua suku ini seperti halnya peristiwa ‘pembantaian’ etnis Tionghoa pada Reformasi Mei 1998, diskriminasi terhadap salah satu suku baik Jawa maupun Tionghoa di dalam suatu kelompok, sebutan huana bagi etnis Jawa dan tenglang untuk etnis Tionghoa, dan yang paling sederhana namun dapat memicu konflik yang besar ; menganggap kesalahan seseorang sebagai kesalahan kelompoknya (agama, suku, dan budaya) secara keseluruhan (stereotype). Semua itu tidak datang begitu saja, semua tidak seperti api yang tiba-tiba membesar. Ia hadir bagai dalam sekam, sudah ada akar sumbu sejarahnya serta tumpukan milyaran persoalan yang menerbitkan dendam.
Padahal sudah seharusnya perbedaan suku bangsa dipandang sebagai ‘state of mind’, bukan sebagai sesuatu yang layak untuk selalu dipermasalahkan. Bagaimana seseorang bisa memandang seseorang hanya dari ciri fisik yang sudah Tuhan berikan sejak dia lahir. Apakah seseorang bisa menolak untuk dilahirkan pada suku Jawa, Tionghoa, Batak, dll? Dalam perang antar suku di dunia, mungkin mereka benar-benar tidak dapat menerima perbedaan suku atau ras tertentu sehingga mereka ingin berusaha mengungguli dan menyingkirkan suku ras tersebut. Perbedaan janganlah kita lihat sebagai sebuah hal untuk saling mengungguli, tetapi perbedaan dilihat sebagai usaha dan kerjasama untuk dapat melebur menjadi satu sehingga kelemahan dan kelebihan suku itu menjadi sesuatu yang lebih indah. Berbeda bukan berarti tidak dapat bersatu karena perbedaan lah yang menambah keberagaman bangsa. Sudah saatnya untuk tidak lagi saling membentengi diri, sudah saatnya untuk berbaur dengan antar etnis, bukan hanya dengan etnis Jawa dan Tionghoa saja, melainkan seluruh etnis yang ada di dunia.  Mengingat, Indonesia merupakan bangsa yang memiliki nilai-nilai budaya luhur: ramah, santun, toleransi dan gotong royong.

      Saya ingin membuat perubahan salah satu caranya melalui media musik. Melalui komposisi musik, saya ingin mengajak masyarakat luas untuk saling menghargai, saling toleransi dan mau berbaur khususnya untuk etnis Tionghoa dan Jawa. Saya akan mengambil  filosofi etnis Jawa dan Tionghoa yang mengandung makna yang sama, bahwa disetiap sisi baik manusia pasti terdapat sisi buruk . Hal itu tercermin dalan filosofi Yin Yang bagi etnis Tionghoa dan juga keberadaan Sapdopalon dan Nayagenggong yang ada dalam filosofi etnis  Jawa. Untuk itu marilah kita berbuat kebaikan , bertoleransi terhadap etnis lain, saling menghargai dan berbaur menjadi satu untuk melakukan kebaikan agar sisi baik kita lebih lebih besar dan sisi buruk kita makin berkurang. Untuk Indonesia yang lebih baik, Untuk dunia yang lebih damai. 

Minggu, 15 Maret 2015

FLYING PANDA - Music Entertaiment




--------------------------------------------
Flying Panda - Music Entertaiment 

adalah sebuah music entertaiment Yogyakarta yang dibentuk untuk tujuan menghibur dan memeriahkan suasana wedding, sweet 17th, dsb.
Music yang kami bawakan dikemas secara manis, uniqe, rapi dan professional.
Format dapat disesuaikan seperti pesanan ...
1. Big Band
2. Band
3. Acoustic
4. Chamber / Strings Orchestra / Mini Orchestra
5. Electone
6. Piano + Violin / Piano + Saxophone
7. etc ( sesuai dengan request )

For more information :
pin bb 51cd00d6 ( airin aditya )
or call and message WA at +6281804323980
email : ririntan.pianist@gmail.com
---------------------------------------------

FLYING PANDA - Menghujam Jantungku ( Live at Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta X )

Vocal : Made Agastya Ardana
Gitar : Praditya
Saxophone : Eric Tertius
Keyboard 1 : Airin Aditya
Keyboard 2 : Yoga Tompo
Bass : Gilang Alfatah
Drum : Bayu Wira 

Rabu, 28 Januari 2015

#latepost


Aku dan kamu telah menjadi KITA. Berawal manis, penuh kasih, perhatian, juga sayang. Semua berjalan seperti seharusnya. Selalu ada manja, candaan konyolmu, dan aku bahagia. KITA bahagia. 
Entah kapan saat itu datang, aku pun tak menyadarinya. Menyadari saat cinta berubah seperti asap dan menghilang. Entah kapan pula, kau tak lagi menjadikan ku satu satunya. Aku tak pernah bisa menjawab itu. 
Kala itu, semua berubah. Tak pernah lagi sama. Tanpa tatap mata. Tanpa bicara. Tanpa kabar menerpa. Hanya kosong. Datar. Tak ada goresan kata. Kita bisu akan rindu. Dan aku sadar itu. 
Jarak berhasil membusungkan dadanya angkuh karena telah mampu merubah cinta menjadi tak layak dirasa. Kita kini memang tanpa kejelasan. Aku tak pernah tau, disana kau mampu menjaga, atau memang kau telah menghapus cinta. Aku tak pernah tau. 
Dan aku lelah. Aku letih bertahan untuk menunggu kepastian yang ku rasa tak kunjung menghampiri. Aku merasa percuma untuk tetap mempertahankan. Tak akan sama. Aku berhenti untuk tetap memperjuangkanmu. 
Sampai akhirnya, tanpa kata kata perpisahan, tanpa ucapan selamat tinggal, kita telah berbeda. Kau dengan wanitamu, dan aku dengan pilihan ku. 
Entah disebut apakah ini. Aku pun tak pernah paham. Dan kini aku hanya mengikuti alur. Biarkan air mengalir menjauhi hilir. Dan biarkanlah kita pergi menjauhi cinta.

                                                                                                 Jogjakarta, 20 agustus 2014 
 

                                                                                                                         Airin Aditya

Rinduku yang terjawab.


Mungkin langit yang kita pandang kala ini sangat berbeda
Suhu yang kita rasakan mungkin sangat kontras adanya
Saatku mulai bergegas memulai hariku, mungkin kau sedang dalam persiapan menuju mimpi indahmu
Saat ku menatap bulan yang bersinar terang, mungkin kau sedang berteduh dari teriknya sinar matahari yang membakar kulit.
Saatku membutuhkan alat untuk membuat udara disekitarku terasa sejuk, mungkin kau sedang menggunakan selimut tebal untuk mencari kehangatan.
Saatku sedang berlindung dari derasnya hujan, mungkin kau sedang mencari oase ditengah gersangnya padang gurun.
Namun satu hal yang membuat keadaan dan kondisi kita serasi nan padu, di manapun, kapanpun, dalam kondisi apapun…
rindu..
Rinduku padamu, dan rindumu padaku…
Doaku…
Semoga Tuhan mau berbelaskasih pada kita berdua,
dan segera memerintahkan sang semesta untuk menciptakan waktu dan suasana yang tak akan kita duga dan pahami maksudnya.
Ya… Untuk mempertemukan kita dan mengenali satu sama lain,
bahwa kamu dan aku adalah rindu yang terjawab.

Minggu, 20 Juli 2014

Aku rindu.



Aku sedang merindu, kepada seseorang yang telah memenuhi hatiku beberapa minggu ini. Aku sedang merindu, kepada seseorang yang selalu mewarnai hariku dengan senyuman. 

Bukan perkara mudah merebut hatinya dari banyak hati yang meminta. Bukan perkara mudah juga untuk menjaga hati ini untuknya. 

Ini tentang rindu yang terus menumpuk kepadaku. Ini tentang rindu yang ingin segera disampaikan padanya. Ini rindu yang butuh jawaban tentangnya, peluknya adalah penawar rinduku. 

Ini perkara rindu yang terhalang ribuan jarak untuk dipertemukan sesegera mungkin. Ini perkara rindu yang hanya bisa dipupuk dan dipertemukan setidaknya sebulan sekali. Perkara rinduku menyulitkan, tapi aku tak pernah merasa sulit jika berakhir bahagia. 

Jika kamu kebahagianku, mungkinkah aku berpaling hanya karna perkara rindu ini? :* 

Teruntuk masa lalu.


Teruntuk masa lalu, lepaskanlah aku dari belenggu. Tidakkah kau lihat, jika dia telah mampu bahagia tanpa aku. 
Pergilah rindu yang kini tak bertuan,tak ada lagi tempatmu dihatinya begitu juga dihatiku. Jangan datang lagi kepadaku, menyerang hati dan pikiran setiap waktu. Padahal kau tahu, sejak kepergian tuanmu, kuharap kau mengikuti jejaknya dan tak lagi menggangguku. 
Kenangan. Entah apa yang harus kukatakan kepadamu. Memintamu lenyap dari ingatan, itu tidak mungkin. Suka atau tidak, aku harus menerima kehadiranmu. Menyenangkan atau tidak, kau akan tetap mengikutiku. 
Masa lalu. Cukup sampai disini kau hadir. Biarkan aku menggapai masa depan, tanpa kau bebani dengan penyesalan atas apa yang telah aku lakukan.

Senin, 30 Juni 2014

Ibu, Aku Masih Merindukanmu


Ibu pasti sedang menertawaiku sekarang, ibu akan bilang, “Tuh kan, kangen juga sama ibu. Waktu ibu masih ada dicuekin, keasyikan jalan sama temen-temennya, lebih milih curcol ke twitter daripada ngobrol seru sama ibu tentang hidup kamu, lebih milih makan di luar daripada makan masakan ibu yang gak ada duanya rasanya, ibu salah ngomong dikit merajuknya pake lama, sekarang malah nyariin.” 


"Tapi kan, bu, kita gak pernah saling meninggalkan tanpa pamit? Ibu seperti pergi lewat pintu belakang. Ibu meninggalkanku disuatu malam tanpa kecupan yang sempat aku rasakan, dan terbangun dengan kehampaan yang tiba-tiba. 
Tapi aku juga berusaha menerima dan merangkai cerita bahwa mungkin ibu memang lebih baik meninggalkanku tanpa pelukan terakhir karena jika kita sempat melakukannya, malaikat Maut akan kesusahan berusaha melepaskan pelukan kita".

Tenanglah ibu, kepergianmu perlahan bisa kuterima. Hanya saja rindu ini tak henti membelah diri hingga aku terus menulis kisah ini. Ayolah ibu, temui aku di mimpi, biar kita berpelukan sampai pagi menjemputku lagi. Karena pelukanmu terhangat, ternyaman, dan selalu paling aman di dunia.

Jumat, 27 Juni 2014

Selamat Ulang Tahun, sayang


Selamat siang menuju senja, sayang...

Apa kabarmu hari ini? Bagaimana perasaanmu hari ini? Adakah yang mengusik pikiranmu? apakah lesung pipit diwajahmu masih terus memancar?
Hari ini, selamat ulang tahun yah :). Aku mungkin tak bisa mengabulkan permintaanmu, atau memenuhi harapan-harapanmu. Aku pun tak bisa memberikan hadiah manis berupa bungkusan kado warna warni. Dari dalam hati yang paling tulus, hanya doa pengharapan yang sejatinya bisa aku kirimkan. Semoga apa yang kau peroleh kemarin, hari ini dan esok adalah hal yang bisa membuatmu terus tersenyum.

Umurmu? 21 Tahun, bukan? Dan selama hampir empat tahun dalam umurmu itu kita bersama mengejar mimpi. Aku mungkin bukanlah sahabat yang banyak mengenal tentangmu. Aku juga adalah sahabat yang kadangkala membuatmu kecewa dan marah. Aku sering menyusahkan bahkan mencaci maki. Aku bukan sahabat yang baik, bukan?

Tapi kau tahu? kau adalah sahabat terbaik yang kukenal. Aku bangga dengan kesabaranmu. Aku iri dengan keceriaanmu. Dan aku terpesona dengan kepolosanmu.

Ketika kita sadar tentang pertemuan selama ini, harusnya juga kita sadar bahwa perpisahan juga akan datang. Mungkin inilah yang akan kita temukan di tahun ini. Tuhan telah memberikan kita waktu yang luar biasa untuk bertemu, melewati onak dan duri yang menghalangi mimpi mimpi kita. Ah, bagaimna rasanya ketika perpisahan itu datang? Pastinya ada air mata. Dan kuharap air mata itu adalah air mata kebahagiaan.

Aku ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Terima kasih atas canda tawa. Terima kasih atas pengertianmu. Dan terima kasih atas segalanya.

Ketika kita tak lagi bersua dan tak punya cukup kuasa untuk berjumpa, kuharap kau tidak akan lupa bahwa kita pernah dipertemukan dalam satu perahu. Bersama merasakan susah dan senangnya menjelajahi dunia ini.
Dimasa depan, aku tetap akan berharap bersua denganmu dengan masing-masing impian yang telah dalam genggaman. Aku berharap, Tuhan punya rencana itu. Ketika waktu itu datang, ku harap engkau akan mengatakan “Sahabatku, Aku merindukanmu”. Sederhana. Dan hanya itu yang ingin ku dengar..
Sekali lagi, selamat ulang tahun….. Wish you all the best, sayang. 

Kamis, 26 Juni 2014

Rindu Senja


Aku senang menitipkan rindu untukmu pada matahari senja.
Dan kamu senang menitipkan rindu pada sang purnama. 
Mungkin kita terpisah jarak yang sangat jauh, layaknya matahari dan bulan. 
Atau mungkin kita berada di tempat yang sangat berdekatan. 
Aku tidak tahu, karena aku belum menemukanmu. 
Hanya satu hal yang aku tahu, kita pasti ditakdirkan untuk bertemu.

Aku ingin seperti matahari. 
Selalu mencintai bulan dengan cahayanya, meski mereka tidak pernah bersama dalam satu waktu. 
Jika kita bertemu nanti, aku ingin kamu seperti bulan. 
Bulan menggantikan matahari di kala malam. 
Matahari dan bulan saling melengkapi, dan aku ingin nanti kita begitu.
Aku titipkan rindu untukmu pada matahari senja, dan akan kutunggu salam rindu darimu.

Selasa, 24 Juni 2014

Do You?


Ada senyum dalam hati, ketika mereka menanyakan tentang kita kepadaku. 
Entah jawaban apa yang harus kuberikan, karena aku masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai kita. Sementara mereka, dengan bahagia menyangka kita telah saling mengikrarkan cinta dan sepakat hidup bersama. 

Aku dan mereka telah memiliki hal yang sama dalam hal ini, namun entah bagaimana denganmu. Tanpa kau tahu, cinta telah datang menghampiriku terlebih dahulu. Namun aku tak ingin menyatakan perasaan ini padamu, aku masih memegang prinsip bahwa wanita hanyalah menunggu.

Kusampaikan perasaanku melalui doa -doa, biar Tuhan yang menunjukkannya kepadamu, tentang rasa yang kupunya. 

Jika nanti akhirnya rasa itu tidak kunjung datang dihatimu, aku hanya berharap Tuhan tak akan memberikan rasa yang terlalu, sehingga tak sulit bagiku untuk berlalu darimu. 

Kopi


Lihat, pahitnya kopi pun tetap mempunyai caranya sendiri untuk mengambil hati para pengelana pagi. 
Ya, sama seperti caramu menyakiti yang membuatku menjadi jatuh hati.